'Mengupas' Manusia dari Hubungan Kejahatan dengan Perekonomiannya

 
Sumber: https://brightside.me/wonder-curiosities/10-differences-between-the-habits-of-the-rich-and-the-poor-that-explain-a-lot-794028/

Kali ini gua mau bahas mengenai 'mengupas' manusia dari hubungan kejahatan dengan perekonomiannya nih. Eitss, mengupas disini bukan dalam bentuk kata kerja yaa, tapi hanya kiasan. Maksud gua 'mengupas' disini seperti membuka perlahan 'isi' manusia.

    Sebelum gua lanjut gua perlu disclaimer terlebih dahulu kalau tulisan ini adalah pandangan dari gua, mungkin ada benarnya mungkin ada salahnya (karena benar salah sebenarnya relatif). Jadi bagi teman-teman yang memiliki pandangan berbeda ataupun ingin membahas lebih lanjut, monggooo ditulis di kolom komentar ya :)

   Oke, pertama gua mau bahas, kenapa gua taro kata 'kejahatan' nih di judul, kenapa bukan kriminalitas, karena kriminalitas lebih mengarah ke perbuatan yang melanggar hukum yang ada, sedangkan kejahatan dimana diambil dari kata dasar jahat lebih mengarah dari perbuatan yang jelek, buruk, yaa pokoknya tidak baiklah (berdasarkan dari KBBI). Nah, jadi gua nggak lagi menekankan perbuatan manusia yang melanggar hukum nih, tapi lebih ke perbuatan mereka yang dianggap orang lain hina buruk atau nggak seharusnya mereka melakukan itu. 

    Kedua, kenapa gua mau membahas hubungan kejahatan dengan tingkat ekonominya nih. Mungkin beberapa dari kita nggak asing kalau mendengar media memasang headline judul 'Demi membeli susu, bapak ini rela mencuri dari minimarket' atau 'Karena di PHK, bapak ini mencuri tabung gas demi mencukupi kebutuhan pangan keluarganya. Dari kedua contoh headline news ini, seperti menggambarkan kejahatan itu terjadi karena tidak tercukupinya kebutuhan ekonomi atau jahatnya orang melakukan kejahatan karena mereka miskin. Apa benar begitu? 🤔

    Nah, sekarang apa itu kita pernah mendengar headline berita yang judulnya 'Karena kaya orang ini rela mencuri pampers bayi' atau 'Gila! seorang milioner tertangkap basah mengutil biskuit di toko kelontong' (kalau pernah denger kebangetan sih, ada orang kayak gini). Tapi kalau mendengar kasus mengenai koruptor dan penggelapan pajak, kalian pasti sering denger kan?? Well, gua juga nggak tau pasti pendapatan mereka berapa, tapi yang pasti pendapatan mereka cukup buat menuhi kebutuhan primer, dan juga sekunder mereka, mungkin juga mereka udah penuhin kebutuhan tentier tersier mereka. Well , sederhanya yang mau gua bilang itu orang kaya juga bisa melakukan kejahatan.
Melakukan kejahatan karena kebutuhan primer mereka belum mencukupi, melakukan kejahatan tapi kebutuhan tersier mereka sudah berlebih. - mons
    Pernyataan yang kedua terdengar ironis, tapi hal seperti ini memang terjadi. Manusia bisa melakukan kejahatan karena belum atau tidak memiliki rasa aman, tetapi bukan hanya itu, manusia bisa melakukan kejahatan karena belum merasa puas, atau selalu merasa kekurangan. Menurut Nietche (filsafat asal Jerman) ia menyatakan manusia sebagai binatang yang tidak pernah selesai atau tidak pernah puas, yang berarti manusia tidak akan pernah puas dalam memebuhi kebutuhan hidupnya. Dari faktor ekonominya, 
  1. manusia bisa berubah menjadi makhluk ganas yang akan merampas dan melukai orang lain, agar mereka merasa aman 🐯. Atau 
  2. manusia bisa berubah menjadi makhluk serakah yang akan terus menerus mengeruk kekayaan tetapi tidak akan pernah puas dengan semua itu 🐷. 
    Lalu, bagaimana agar 'kita' (yang dimana kita ini juga adalah manusia) tidak berubah menjadi kedua makhluk di atas? 

    Gua nggak punya, atau mungkin belum bisa memberikan solusi yang pasti, tapi bila kita belajar dari Taiwan, Jepang, dan Swiss, yang dimana adalah top 10 negara teraman di dunia. 
  1. Taiwan adalah negara yang memiliki pantauan CCTV yang luas, hampir semua jalanan di Taiwan dijaga oleh CCTV. 
  2. Jepang, negara dengan penduduk paling 'sopan' di dunia, karena penanaman tradisi 'kesopanan' yang turun temurun diajarkan
  3. Swiss negara salah satu negara teraman dan terkaya, tidak ada ketimpangan sosial antara si kaya dan miskin
    Dari ketiga negara itu, hal yang bisa gua petik adalah, menusia harus memiliki pengawasan, moral, dan ekualitas. Tapi ada satu lagi yang menurut gua penting, yaitu batasan. Keempat hal ini menurut gua krusial di tanamkan pada manusia dan juga kehidupan di lingkungan sekitarnya. Karena jika hanya satu manusia yang menerapkan keempat hal ini, maka percuma saja. 😕

    Jadi, menurut kalian gimana nih, dengan pembahasan yang kali ini?? Kuy kita saling sharing


N.B. konteks 'kejahatan' disini gua fokusin ke kejahatan secara ekonomi, atau keuangan. Di post yang selanjutnya mungkin akan gua fokusin ke masalah yang lain atau mungkin secara genaral.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Memangnya Harus Sama?